Labuhanbatu,(CYBER24.CO.ID) – Bupati Labuhanbatu, dr. Hj. Maya Hasmita, Sp.OG., M.K.M., direncanakan menerima Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Tahun 2026. Penghargaan tersebut akan diserahkan pada puncak perayaan Hari Pers Nasional (HPN) yang digelar di Serang, Provinsi Banten, pada 9 Februari 2026.
Penetapan itu tertuang dalam Berita Acara Anugerah Kebudayaan PWI Pusat Kategori Bupati/Wali Kota pada HPN 2026 Nomor: 539/PWI-P/LXXIX/I/2026, yang ditandatangani lima orang dewan juri, yakni Yusuf Susilo Hartono, Agus Dermawan T, Dr. Nungki Kusumastuti, Akhmad Munir, dan Sudjiwo Tejo.
Dalam dokumen tersebut, dewan juri memutuskan bahwa Bupati Labuhanbatu berhak menerima Trofi Abyakta dan piagam penghargaan, atas proposal berjudul “Gema Sahabat (Gerakan Empati Masyarakat): Penguatan Karakter dan Budaya Sejak Dini.”
Program Gema Sahabat merupakan inisiatif kemanusiaan berbasis budaya yang lahir dari kepekaan terhadap realitas geografis, risiko kebencanaan, serta keberagaman budaya di Kabupaten Labuhanbatu. Program ini menitikberatkan pada perlindungan kelompok rentan, khususnya anak-anak, melalui penguatan nilai empati, solidaritas, dan karakter sejak dini.
Dalam presentasinya di hadapan dewan juri pada Jumat, 9 Januari 2026, Maya Hasmita menjelaskan bahwa Gema Sahabat telah diimplementasikan dalam berbagai aksi kemanusiaan, termasuk saat penanganan korban banjir bandang di wilayah Sumatera. Pendekatan yang digunakan adalah mobilisasi budaya dan kemitraan lintas komunitas etnis secara inklusif untuk menumbuhkan empati serta menghimpun dukungan dari pemerintah, sektor swasta, dan kelompok budaya.
Dalam presentasinya di hadapan dewan juri pada Jumat, 9 Januari 2026, Maya Hasmita menjelaskan bahwa Gema Sahabat telah diimplementasikan dalam berbagai aksi kemanusiaan, termasuk saat penanganan korban banjir bandang di wilayah Sumatera. Pendekatan yang digunakan adalah mobilisasi budaya dan kemitraan lintas komunitas etnis secara inklusif untuk menumbuhkan empati serta menghimpun dukungan dari pemerintah, sektor swasta, dan kelompok budaya.
Praktik nyata di lapangan meliputi kunjungan langsung ke lokasi bencana, pelaksanaan trauma healing bagi anak-anak melalui seni dan permainan, serta pendistribusian perlengkapan sekolah dan kebutuhan dasar. Seluruh kegiatan didokumentasikan secara transparan melalui foto dan video, serta disebarluaskan melalui kerja sama dengan media massa sebagai narasi kemanusiaan yang inspiratif.
Menurut Maya Hasmita, implementasi Gema Sahabat telah memberikan dampak positif terhadap pemulihan psikososial anak-anak serta menjaga keberlanjutan akses pendidikan bagi korban bencana.
“Gema Sahabat merupakan investasi sosial dan budaya. Anak-anak yang tumbuh dengan pengalaman empati, solidaritas, dan keteladanan akan berkembang menjadi generasi yang berkarakter kuat, adaptif, serta memiliki kesadaran kebangsaan dan kemanusiaan,” ujar Maya Hasmita.
Di akhir pemaparannya, ia berharap Gema Sahabat dapat berkontribusi lebih luas dalam mengaktualisasikan budaya lokal sebagai sarana pendidikan karakter empati, sekaligus menjadi bagian dari gerakan nasional penguatan identitas dan kebudayaan bangsa.
(Rustina)



























