Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Siak, dari total 16 korban terdampak, 10 orang dirujuk ke RSUD Tengku Rafi’an Siak untuk mendapatkan perawatan medis, sementara 6 orang lainnya menjalani observasi dan dipulangkan.
Dari jumlah tersebut, 15 korban merupakan anak-anak dan 1 orang dewasa yang merupakan guru pendamping.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Siak, Syafrizal, membenarkan kejadian tersebut. Kepada awak media, dia mengatakan bahwa seluruh korban merupakan pelajar MTs yang sedang berkunjung ke lokasi wisata.
“Benar, ada sembilan orang pelajar yang menjadi korban dan saat ini dirawat di RSUD Tengku Rafi’an Siak. Dari jumlah itu, tiga orang mengalami cidera cukup berat,” ujar Syafrizal kepada awak media via sambungan Seluler, Sabtu (31/1).
Syafrizal menjelaskan, runtuhnya lantai dua Gedung Tangsi Belanda diduga kuat disebabkan oleh kondisi bangunan yang telah dimakan usia.
Meski dari luar terlihat masih kokoh, namun struktur kayu di bagian dalam ternyata sudah rapuh.
“Bangunan itu terbuat dari kayu. Kayunya sudah dimakan rayap. Dari luar memang tampak kuat, tetapi di dalam sudah bopong. Itu terlihat dari serpihan kayu yang patah saat kejadian,” jelasnya.
Gedung Tangsi Belanda sendiri merupakan bangunan bersejarah peninggalan masa kolonial yang selama ini menjadi salah satu daya tarik wisata di Kabupaten Siak.
“Kami berharap pihak kementrian dan instansi terkait segera melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap destinasi wisata yang ada, agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas utama,” katanya.
Terkait biaya perawatan para korban, Syafrizal memastikan bahwa seluruhnya akan ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten Siak.
Hal ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah daerah terhadap musibah yang menimpa para pelajar.
“Untuk biaya perawatan korban, semuanya ditanggung oleh Pemkab Siak,” tegasnya.



























