BENGKULU,(CYBER24.CO.ID)– Pemerintah Provinsi Bengkulu memastikan ketersediaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram di seluruh wilayah Bumi Rafflesia dalam kondisi aman dan mencukupi. Klarifikasi ini dikeluarkan guna meredam kekhawatiran masyarakat menyusul isu kelangkaan yang memicu lonjakan harga di tingkat pengecer hingga mencapai Rp40.000 per tabung.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bengkulu, Rico Yulyana, menegaskan bahwa berdasarkan hasil pemantauan, tidak ditemukan adanya penipisan stok di tingkat penyalur. Pihaknya pun telah melakukan koordinasi intensif dengan PT Pertamina (Persero) untuk menjamin kelancaran distribusi.
“Secara data dan pantauan di lapangan, stok LPG 3 kilogram di Bengkulu masih sangat aman. Tidak ada penipisan pasokan. Kami sudah berkoordinasi dengan Pertamina untuk memastikan distribusi dari agen ke pangkalan berjalan normal tanpa kendala,” ujar Rico, Selasa (17/3/2026).
Rico menjelaskan, dinamika yang terjadi di lapangan saat ini lebih dipicu oleh meningkatnya aktivitas konsumsi rumah tangga menjelang Idulfitri. Kenaikan permintaan yang drastis dalam waktu singkat seringkali dimanfaatkan oleh oknum pengecer untuk menaikkan harga di atas kewajaran.
“Peningkatan aktivitas memasak jelang Lebaran memang memicu kenaikan konsumsi. Namun, hal ini sering kali diperparah dengan perilaku panic buying, di mana masyarakat membeli dalam jumlah lebih banyak dari biasanya karena khawatir stok habis,” tambahnya.
Guna mendapatkan harga yang sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET), Pemprov Bengkulu sangat menyarankan masyarakat untuk membeli gas melon langsung di pangkalan resmi, bukan di pengecer atau warung-warung kecil.
Selain menjamin harga yang adil, pangkalan resmi merupakan jalur distribusi terakhir yang dipantau langsung oleh pemerintah dan Pertamina. Selain memantau LPG, Pemprov Bengkulu juga memastikan pasokan energi lain seperti Bahan Bakar Minyak (BBM) dan listrik tetap stabil sepanjang periode libur Idulfitri.
“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan jangan mudah terprovokasi isu kelangkaan. Belilah sesuai kebutuhan. Jika masyarakat tidak melakukan panic buying, distribusi di lapangan akan tetap terjaga dan stabil,” pungkas Rico.
(Mudisuan)



























