SIAK,(CYBER24.CO.ID) – Dinas Kesehatan Kabupaten Siak masih mendalami kasus dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa puluhan siswa SMKN 1 Kandis, Kecamatan Kandis. Penyelidikan dilakukan untuk memastikan sumber penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Siak, dr Handry, menjelaskan pihaknya telah melakukan sejumlah upaya penanganan. Bahkan telah melakukan investigasi sejak menerima laporan kejadian tersebut.
“Dinas Kesehatan Kabupaten Siak telah melakukan penyelidikan Epidemiologi terhadap kasus dugaan keracunan penerima manfaat MBG di SMKN 1 Kandis,” kata dr Handry, pada wartawan, Selasa (27/1/2026).
Selain itu, Dinkes juga melakukan penilaian ulang kelayakan Inspeksi Kesehatan Lingkungan terhadap dapur MBG yang menjadi lokasi pengolahan makanan. Diketahui dapur ini berada di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di kampung Telaga Sam-sam, kecamatan Kandis. SPP ini berada di bawah naungan Yayasan Tuah Karya.
Untuk memastikan penyebab pasti, lanjut dr Handry, petugas sanitarian dari Puskesmas Kandis telah mengambil sampel makanan. Sampel itu telah dikirimkan ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Riau.
“Saat ini hasil uji laboratorium masih menunggu. Nantinya hasil tersebut akan menjadi dasar penentuan penyebab kejadian,” ujarnya.
Terkait operasional kembali dapur MBG, dr Handry menegaskan hal tersebut bukan kewenangan Dinas Kesehatan.
“Kewenangan izin untuk membuka kembali berada pada BGN, sambil menunggu hasil uji laboratorium,” tegasnya.
Penjelasan Badan Gizi Nasional (BGN)
Sebelumnya, Koordinator Wilayah (Korwil) BGN Kabupaten Siak, Lisa Wahari, menjelaskan bahwa laporan awal diterima pada Selasa (13/1) pukul 09.20 WIB dari pihak SMKN 1 Kandis terkait sejumlah siswa yang mengalami diare. Tim SPPG langsung turun ke sekolah dan membawa sebagian siswa ke klinik terdekat. Sebanyak 21 siswa mendapat penanganan medis berupa infus.
BGN juga mengakui adanya bumbu pelengkap yang sempat dinilai kurang baik saat proses masak. Meski sempat diinstruksikan untuk diganti, bumbu tersebut diketahui tetap digunakan pada pengantaran siang hari. Namun, hingga Senin sore tidak ada keluhan yang masuk, dan laporan baru diterima keesokan harinya. Bahkan, menurut BGN, terdapat satu siswa yang mengalami diare meski tidak mengonsumsi menu MBG di hari kedua, karena berpuasa.
Laporan: MASRONI



























