Budaya

Menjaga Warisan Lewat Gaya, Riau Berkain 2026 Angkat Pesona Kebaya Laboh ke Panggung Modern

×

Menjaga Warisan Lewat Gaya, Riau Berkain 2026 Angkat Pesona Kebaya Laboh ke Panggung Modern

Sebarkan artikel ini

PEKANBARU,CYBER24.CO.ID — Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Riau kembali menggelar ajang tahunan Riau Berkain 2026 di Hotel Grand Elite Pekanbaru pada Sabtu (7/11). Memasuki tahun kelimanya, perhelatan fesyen ini berfokus mengangkat kekayaan wastra Nusantara, khususnya pesona kebaya laboh sebagai busana warisan leluhur Melayu dalam sentuhan kreasi modern yang elegan.

​Kegiatan yang dihelat secara konsisten setiap tahun ini menjadi wadah strategis bagi para desainer lokal untuk berinovasi. Ketua Panitia Riau Berkain 2026, Shanti Lestari, menjelaskan bahwa pergelaran tahun ini mengusung tema khusus yang menonjolkan karakter busana tradisional agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

​“Melalui tema ini, kami ingin mengangkat aspirasi terhadap busana Melayu, sehingga kebaya laboh dapat ditampilkan sebagai busana yang berbudaya, tetapi tetap segar dan elegan. Kami juga berharap desainnya terus bergerak dan berkembang ke depannya,” ujar Shanti di Hotel Grand Elite Pekanbaru, Sabtu (7/11).

​Shanti menambahkan, ajang ini tidak hanya berorientasi pada aspek pelestarian budaya semata, melainkan turut membangun kolaborasi berkelanjutan antara para perancang busana dan model profesional. Perluasan pemasaran batik dan tenun khas Riau juga menjadi fokus utama guna memperkuat identitas daerah di kancah industri kreatif nasional.

​Sementara itu, Ketua API BPD Riau, Arningsih, menyampaikan apresiasi atas konsistensi penyelenggaraan acara yang kini menginjak tahun kelima. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya para anggota API BPD Riau, untuk terus membudayakan penggunaan kain lokal dalam berbagai kesempatan resmi maupun harian.

​“Riau Berkain sudah memasuki tahun kelima dan selalu kita laksanakan setiap tahunnya. Ke depannya, teman-teman BPD Riau akan selalu menggunakan wastra Riau agar wastra dan budaya kita semakin berkembang,” ungkap Arningsih.

Baca Juga:  Panglima Utama Tameng Adat Serahkan Mandat Pembentukan Pengurus Se-Kabupaten Siak

​Selain melestarikan warisan budaya, Arningsih menilai bahwa gerakan Riau Berkain 2026 turut memberikan dampak nyata dalam hal pemberdayaan perempuan (empowering women). Langkah kolaboratif ini diharapkan mampu membawa wastra tradisional Riau semakin dikenal luas hingga menembus pasar global.

​Dukungan penuh terhadap kemajuan industri tekstil daerah turut disuarakan oleh Kepala Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bekasi Kementerian Ketenagakerjaan RI, Yose Rizal. Menurutnya, perkembangan industri tekstil modern tidak hanya diukur dari kuantitas produksi kain, melainkan sejauh mana produk tersebut berdampak pada kebudayaan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

​“Wastra bukan hanya peninggalan budaya, tetapi juga identitas dan potensi ekonomi yang besar. Warisan budaya harus kita dorong menjadi sumber inovasi, kreativitas, produktivitas, dan ekonomi,” tegas Yose.

​Lebih lanjut, Yose mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memandang kain tradisional bukan sekadar fesyen yang dikenakan, melainkan sebagai motor penggerak ekonomi dan pencipta lapangan kerja baru. Ia optimistis kekayaan tekstil Riau mampu menjadikan wilayah ini sebagai salah satu pusat pertumbuhan mode di Indonesia bahkan Asia Tenggara.

​“Saya mengajak semua untuk melihat kain bukan hanya sebagai produk yang dikenakan, tetapi sebagai roda penggerak budaya dan pencipta lapangan kerja. Jadikan Riau yang tidak hanya kaya akan warisan tekstil namun juga bisa sebagai pusat pertumbuhan fashion Indonesia, bahkan Asia Tenggara,” tuturnya.(Fr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250