PEKANBARU,(CYBER24.CO.ID) — Gelombang konflik antara manusia dan satwa liar di Provinsi Riau kian mengkhawatirkan dan memakan korban jiwa. Belum usai ketegangan akibat teror monyet liar yang menyerang belasan warga di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), ancaman mematikan kini datang dari satwa dilindungi di Kabupaten Pelalawan. Seorang petani karet di Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, dilaporkan mengalami luka-luka serius setelah diterkam beruang madu saat sedang bekerja di kebunnya.
Peristiwa nahas tersebut menimpa Antono (40), seorang warga yang kesehariannya mencari nafkah sebagai penyadap karet. Korban diserang secara membabi buta oleh seekor beruang madu dewasa saat sedang menderes karet di lahan miliknya yang terletak di kawasan Dusun Air Putih, Kilometer 53, Desa Pangkalan Gondai, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, pada Rabu (5/8/2026) sekitar pukul 10.00 WIB.
Berdasarkan keterangan pihak kepolisian melalui Kapolsek Langgam Ipda Bambang Hermanto, korban diserang secara tiba-tiba oleh satwa liar yang keluar dari semak belukar di sekitar kebun. Akibat serangan mendadak itu, korban sempat bergulat dan mengalami luka cakaran serta gigitan serius di bagian kepala, wajah, hingga pundak.
Dalam kondisi terdesak, korban sempat melakukan perlawanan menggunakan parang sebelum akhirnya satwa tersebut kabur kembali ke dalam semak-semak. Meski mengalami luka parah, korban sempat berupaya menyelamatkan diri menggunakan sepeda motor sebelum akhirnya jatuh pingsan karena kehabisan tenaga dan segera dilarikan oleh warga ke Puskesmas hingga akhirnya dirujuk secara intensif ke RSUD Selasih Pangkalan Kerinci. Aparat kepolisian bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau langsung bergerak cepat mendatangi lokasi guna melakukan mitigasi.
Sebelumnya, gelombang serangan satwa liar juga melanda Kota Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Sedikitnya 16 warga mengalami luka-luka akibat serangan kera atau monyet liar yang mengamuk di kawasan permukiman padat dan pinggiran sungai sejak akhir Juli 2026. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Inhil, Junaidi Ismail, menyebutkan bahwa intensitas serangan sudah terjadi hingga 15 kali dengan korban mencapai 14 orang, di mana ada warga yang diserang hingga dua kali. Seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis dan suntik vaksin rabies.
Tanggapan Pakar Lingkungan: Riau di Ambang Krisis Ekologis
Rentetan insiden serangan satwa liar secara beruntun mulai dari teror monyet di Inhil, ancaman harimau, hingga beruang madu yang menyerang pekerja di Pelalawan mendapat sorotan tajam dari pakar lingkungan Dr. Elviriadi.
”Saya dah dengar itu. Jelas habitat satwa itu dah dirampok manusia. Saat ini bumi kita sudah diisi perampok, begal uang rakyat, mafia tanah, perampas hak satwa. Rata-rata necis berdasi,” ujar Dr. Elviriadi saat dimintai tanggapan, Rabu malam (5/8/2026).
Akademisi yang kerap menjadi ahli di pengadilan lingkungan ini menilai bahwa Riau sudah berada di ambang kehancuran ekologis akibat masifnya alih fungsi hutan menjadi korporasi dan perkebunan yang mengabaikan koridor satwa.
”Tak ada lagi. Kebijakan semua mengarah pada pembinasaan alam. Kongkalikong dengan perusahaan, menghancurkan hutan dan ekosistem wajib di Riau ini. Apalagi tak menggigit manusia yang merusak itu,” kritik alumni Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) tersebut.
Kepala Departemen Restorasi Gambut Majelis Nasional KAHMI itu menegaskan bahwa hilangnya ruang hidup membuat satwa kehilangan sumber pangan, sehingga konflik dengan manusia menjadi keniscayaan.
”Makanya konflik gajah, harimau sumatera, beruang, dan sekarang monyet terus terjadi. Target Indonesia ini nampaknya mau menjadikan pohon itu duit, ranting duit, tanah duit, satwa duit, karbon pun jadi duit (carbon trading). Mana ada melestarikan lingkungan? Apa tidak dicakar manusia di situ? Masih untung tidak ‘anu’ itu tidak digigit dio. Kalau itu betul kena, tepekik lahilah,” pungkas putra Meranti tersebut dengan nada tegas.(Red)



























