Berita

Lisda Hendrajoni Ajak Insan Pers Jadi Pemersatu Bangsa: Berintegritas, Kawal Demokrasi, Lawan Hoaks

×

Lisda Hendrajoni Ajak Insan Pers Jadi Pemersatu Bangsa: Berintegritas, Kawal Demokrasi, Lawan Hoaks

Sebarkan artikel ini

PAINAN, CYBER24.CO.ID — Di tengah derasnya arus informasi dan maraknya penyebaran kabar bohong (hoaks) di media sosial, insan pers dituntut untuk semakin teguh menjaga integritas dan profesionalisme. Pers tidak hanya bertugas menyampaikan informasi kepada publik, tetapi juga memikul tanggung jawab besar dalam merawat persatuan, mengawal demokrasi, serta memastikan suara masyarakat sampai kepada para pemangku kebijakan.

​Pesan mendalam tersebut mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang diselenggarakan bersama Anggota DPR RI Komisi VIII Fraksi NasDem, Dr. Hj. Lisda Hendrajoni, S.E., MMTr. Acara yang dihadiri jajaran wartawan dan tokoh media lokal ini mengangkat tema utama “Pers Berintegritas, Demokrasi Bermartabat, Indonesia Bersatu”.

​Kegiatan strategis ini menjadi momentum krusial untuk memperkuat peran insan pers dalam mengamalkan nilai-nilai empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

​Dalam kesempatan itu, Lisda menegaskan bahwa wartawan memiliki posisi yang sangat strategis dalam membentuk pola pikir serta persepsi masyarakat. Informasi yang disampaikan melalui pemberitaan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan memiliki dampak mendasar terhadap cara masyarakat memahami dan menyikapi berbagai persoalan daerah maupun nasional.

​Oleh karena itu, masyarakat sangat membutuhkan kehadiran pers yang dapat dipercaya dan diandalkan. Kepercayaan publik tersebut harus dibangun secara konsisten melalui pemberitaan yang akurat, berimbang, terverifikasi, dan tidak memotong informasi dari konteks persoalan yang sebenarnya.

​”Kepada masyarakat juga diminta jangan membiasakan hanya membaca judul. Jangan membaca setengah-setengah. Kita harus memahami persoalan secara utuh agar informasi yang didapat benar-benar dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Lisda.

​Ia menilai, wartawan pada dasarnya telah memiliki bekal pengetahuan yang luas karena profesi tersebut menuntut mereka untuk terus membaca, menggali informasi, turun langsung ke lapangan, serta mengikuti perkembangan berbagai peristiwa. Namun, keluasan wawasan tersebut harus tetap dibarengi dengan integritas tinggi, ketelitian, dan tanggung jawab moral.

Baca Juga:  BPN Agam Laksanakan Pengukuran ICP di Nagari Manggopoh untuk Persiapan PTSL 2026

​”Anak-anak Bunda (wartawan) harus menjadi pemersatu bangsa. Kita melihat sekarang di media sosial banyak informasi yang mengadu domba, padahal belum tentu orang yang dituduhkan itu melakukan kesalahan. Di sinilah pentingnya peran pers dalam menjaga kebenaran informasi,” katanya.

​Lebih dari sekadar menyampaikan kabar, Lisda berharap insan pers mampu menjadi kekuatan yang mempersatukan masyarakat. Ia mengingatkan agar wartawan tidak ikut memperkeruh suasana melalui informasi yang belum terverifikasi maupun pemberitaan yang berpotensi menggiring opini dan memecah belah bangsa.

​Perhatian Lisda juga tertuju pada fenomena media sosial yang belakangan ini kerap menjadi ruang penyebaran informasi provokatif. Tidak jarang, kabar yang belum jelas kebenarannya justru berkembang menjadi tuduhan, saling menyalahkan, hingga memicu perselisihan di tengah masyarakat. Ia menyinggung sejumlah peristiwa yang ramai diperbincangkan, termasuk kejadian baru-baru ini di Malaysia, yang menurutnya perlu disikapi secara cermat agar masyarakat tidak mudah terprovokasi.

​Menurutnya, nilai-nilai NKRI harus tercermin dalam kehidupan demokrasi yang memberikan ruang bagi seluruh masyarakat untuk menyampaikan pendapat dan aspirasinya. Dalam hal ini, pers memiliki peran penting sebagai jembatan komunikasi yang menghubungkan masyarakat dengan pemerintah.

​”Sebagai anggota DPR RI, tentunya kita berharap teman-teman wartawan dapat menyampaikan aspirasi masyarakat. Apa yang menjadi keluhan dan kebutuhan masyarakat perlu disuarakan, sehingga dapat menjadi perhatian bersama,” tutur Lisda.

​Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, Lisda turut mengingatkan insan pers agar bijak memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam proses kerja jurnalistik sehari-hari. Ia mengakui teknologi AI dapat membantu mempercepat pekerjaan wartawan, namun kemudahan tersebut tidak boleh menghilangkan fungsi utama jurnalis.

​”Walaupun sekarang sudah ada AI, dalam pembuatan berita tentu harus tetap dikonfirmasi. Jadikan AI sebagai asisten, jangan sampai kita yang dijadikan asisten. Wartawan tetap harus melakukan verifikasi dan memastikan informasi yang disampaikan benar dan berimbang,” ucapnya menegaskan.

Baca Juga:  Ketua DPRD Siak Terima Kunjungan Silaturahmi Kapolres Baru AKBP Sepuh Ade Irsyam Siregar

​Lisda juga mengingatkan pentingnya menjaga independensi, profesionalisme, serta mematuhi Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Menurutnya, kepercayaan publik merupakan modal utama pers yang harus dirawat melalui konsistensi dalam menghadirkan informasi yang akurat dan bertanggung jawab.

​Sementara itu, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Pesisir Selatan, Robby Octora Romanza, menyambut baik dan mengapresiasi pelaksanaan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang melibatkan insan pers tersebut.

​Menurut Robby, kegiatan ini menjadi ruang penting untuk memperkuat pemahaman wartawan terhadap nilai-nilai kebangsaan sekaligus mengingatkan kembali posisi strategis pers dalam kehidupan demokrasi. Ia menilai, kebebasan pers harus selalu berjalan seiring dengan tanggung jawab profesional. Kecepatan dalam menyampaikan informasi tidak boleh mengalahkan kepentingan publik untuk mendapatkan berita yang benar, akurat, dan berimbang.

​Robby juga menekankan bahwa setiap produk jurnalistik wajib melalui proses verifikasi ketat serta berpedoman pada kode etik jurnalistik. Sebab, informasi yang tidak teruji kebenarannya berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, merugikan pihak lain, bahkan mengganggu keharmonisan kehidupan sosial.

​Ia berharap sosialisasi tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, melainkan menjadi pengingat bagi seluruh insan pers untuk terus memperkuat integritas dan menjadikan nilai-nilai empat pilar kebangsaan sebagai landasan utama dalam menjalankan tugas jurnalistik.

​Pada akhirnya, pers berintegritas bukan hanya diukur dari seberapa cepat sebuah peristiwa diberitakan, melainkan juga dari keberanian menjaga kebenaran, keteguhan mempertahankan independensi, dan kepedulian dalam menyuarakan kepentingan masyarakat. Di tengah derasnya arus informasi, pesan dalam sosialisasi ini menegaskan bahwa pers harus tetap menjadi penjaga demokrasi, penyambung aspirasi rakyat, sekaligus pemersatu bangsa.(MIL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250