PEKANBARU,(CYBER24.CO.ID) – Sengketa lahan eks PT Sarpindo di Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis, kian memanas akibat aksi saling klaim yang meresahkan warga. Menyikapi persoalan ini, tokoh masyarakat setempat yang dikenal sebagai “Dwitunggal” aktivis pembela hak-hak rakyat, Soleh dan Herman, bergerak cepat menemui pakar lingkungan Riau, Dr. Elviriadi, di Pekanbaru, Kamis (6/8/2026).
Langkah taktis ini diambil guna mencari solusi atas konflik pertanahan yang telah memicu keresahan di tengah masyarakat.
”Alhamdulillah, kami sudah bertemu dengan Pak Dokter dan menceritakan seluruh persoalan di lapangan. Insya Allah, hari ini beliau langsung turun ke Rupat,” ujar Soleh dengan penuh optimisme.
Menanggapi aduan tersebut, Dr. Elviriadi menyambut baik inisiatif warga Pulau Rupat. Akademisi sekaligus tokoh masyarakat Riau ini menilai sengketa di Pulau Rupat merupakan cerminan dari persoalan agraria yang kerap terjadi di daerah subur.
”Saya kira ini adalah problem klasik Riau sebagai daerah yang subur. Lahan eks Hak Guna Usaha (HGU) seharusnya dikembalikan dulu kepada negara, tidak bisa ditukar guling begitu saja, apalagi diperjualbelikan secara bawah tangan. Saya akan kaji secara tuntas aspek legalitas dan seluruh perjanjian yang ada,” tegas alumni Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) tersebut.
Rencananya, Dr. Elviriadi beserta tim akan bertolak ke Pulau Rupat siang ini melalui jalur Tol Pekanbaru–Dumai. Kehadiran sang pakar lingkungan di Pulau Rupat telah dinantikan oleh ratusan warga yang selama ini mengalami dampak langsung dari gangguan pertanahan.
Setibanya di pelabuhan roro Rupat, Dr. Elviriadi akan disambut oleh Herman selaku pihak pengundang bersama tokoh masyarakat dan warga setempat, di antaranya Salikhin, Zaini, Yunus, Sugito, Halim, Datuk Abu, Rama, Riadi, serta perwakilan warga dari Tanjung Kapal, Desa Sidomulyo, dan Desa Batu Banjang, turut pula hadir alumni Jurusan Peternakan UIN Suska Riau.



























