PEKANBARU,CYBER24.CO.ID || Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Provinsi Riau menunjukkan perkembangan positif. Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Provinsi Riau mencatat, titik api yang masih aktif saat ini hanya tersisa di tiga daerah, yaitu Kabupaten Bengkalis, Indragiri Hulu (Inhu), dan Indragiri Hilir (Inhil).
Kepala BPBD Damkar Riau, M. Edy Afrizal, menyampaikan bahwa secara akumulasi sejak 1 Januari hingga September 2026, total luasan lahan yang terbakar di Riau telah mencapai 18.582,90 hektare yang tersebar di 12 kabupaten/kota.
”Secara akumulatif, total hotspot (titik panas) di Riau mencapai 12.677 titik dengan 618 fire spot (titik api). Sementara untuk kawasan Sumatra secara keseluruhan, total titik panas terdeteksi sebanyak 45.775 titik,” ujar Edy di Pekanbaru, Kamis (3/9/2026).
Berdasarkan data BPBD Damkar Riau, Kabupaten Bengkalis menjadi wilayah terdampak terluas dengan 8.454,40 hektare, disusul Pelalawan setinggi 6.640,99 hektare, dan Indragiri Hilir seluas 1.034,02 hektare.
Berikut rincian luasan Karhutla di 12 kabupaten/kota se-Riau:
●Kabupaten Bengkalis: 8.454,40 Ha
●Kabupaten Pelalawan: 6.640,99 Ha
●Kabupaten Indragiri Hilir: 1.034,02 Ha
●Kabupaten Indragiri Hulu: 605,02 Ha
●Kota Dumai: 556,01 Ha
●Kabupaten Rokan Hilir: 452,53 Ha
●Kabupaten Siak: 373,06 Ha
●Kabupaten Kepulauan Meranti: 217,45 Ha
●Kabupaten Kampar: 141,66 Ha
●Kota Pekanbaru: 103,33 Ha
●Kabupaten Kuantan Singingi: 69,87 Ha
●Kabupaten Rokan Hulu: 33,96 Ha
Edy menegaskan, meskipun kondisi Karhutla di Riau saat ini relatif terkendali dan titik api yang tersisa berskala kecil, tim pemadam di lapangan tidak menurunkan tingkat kewaspadaan. Fokus utama petugas saat ini adalah melakukan proses pendinginan (cooling down), terutama di area lahan gambut.
Langkah pendinginan ini sangat krusial dilakukan untuk memastikan bara api di bawah permukaan tanah benar-benar padam total sehingga tidak memicu kebakaran susulan. Selain itu, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga terus dijalankan secara rutin setiap hari untuk memaksimalkan pembentukan awan hujan.
”Kami tetap siaga. Upaya penanganan tidak hanya memadamkan api di permukaan, tetapi memastikan seluruh sumber api bawah permukaan benar-benar mati. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga terus kami laksanakan setiap hari,” pungkas Edy.



























