BeritaLingkunganPekanbaru

Asap Mulai Selimuti Riau; Dr Elviriadi; Penjahat Lingkungan Dikasi Karpet Merah

×

Asap Mulai Selimuti Riau; Dr Elviriadi; Penjahat Lingkungan Dikasi Karpet Merah

Sebarkan artikel ini

PEKANBARU,(CYBER24.CO.ID) — Bencana kabut asap mulai mendera sejumlah kabupaten dan kota di Provinsi Riau. Dampak pencemaran udara ini bahkan membuat Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru mengeluarkan surat edaran resmi yang menginstruksikan agar kegiatan belajar mengajar di sekolah dialihkan secara daring pada hari ini, Senin (24/8/2026).

​Kondisi tersebut memantik respons tajam dari pakar lingkungan hidup sekaligus akademisi Riau, Dr. Elviriadi. Di sela-sela kesibukannya, ia menyayangkan kembalinya ancaman kabut asap yang dinilai sebagai akibat dari pembiaran terhadap kejahatan lingkungan.

​”Pagi ini kabut tipis mulai kelihatan. Inilah akibat membiarkan kejahatan lingkungan terhadap pihak yang kuat. Bukannya dihukum, malah dipuja laksana pahlawan,” ujar alumni Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) tersebut, Senin (24/8/2026).

​Akademisi yang kerap menjadi ahli di persidangan kasus lingkungan ini menilai tata kelola kehutanan di Indonesia masih terlalu berpihak kepada kepentingan kapitalis. Menurutnya, izin eksploitasi yang tetap diberikan pada areal gambut terlarang mencerminkan standar ganda dalam penegakan hukum lingkungan.

​”Karena sangat bernuansa kapitalis, areal gambut yang dilarang eksploitasi oleh negara tetap diberi izin. Ini kan standar ganda!” tegasnya.

​Akibat eksploitasi lahan gambut yang dinilai di luar batas kewajaran tersebut, wilayah Riau, Sumatra, hingga Kalimantan menjadi sangat rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). “Inilah yang kita nikmati di Riau saat ini,” sindirnya.

​Lebih lanjut, Kepala Departemen Restorasi Gambut dan Mangrove Majelis Nasional KAHMI ini memperingatkan bahwa kebijakan pengelolaan lingkungan yang ceroboh berpotensi merugikan hubungan diplomatik dengan negara tetangga. Asap dari kebakaran hutan dilaporkan mulai membumbung hingga ke Malaysia dan Singapura.

​”Akibat sikap ceroboh, asap membumbung hingga ke Malaysia dan Singapura. Sudah begitu, tetap pura-pura tidak tahu. Korporasi perusak hutan gambut dan pelaku Karhutla tetap dipuja laksana manusia setengah dewa. Tunggulah kalau negara tetangga sudah bersuara,” pungkas putra Meranti yang dikenal vokal memperjuangkan kelestarian hutan tropis tersebut.(Red)

Baca Juga:  Breaking News: OTT di Bekasi, KPK Amankan Bupati Ade Kuswara Kunang dan 9 Orang Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250